Setiap Hari, Hari Ini
Di sebuah pertemuan yang tak terduga, Adrian Hardikara kembali bertemu dengan Inira Dilona, aktris film ternama Indonesia yang menjadi brand ambassador bir buatannya. Tanpa sepengetahuannya, Inira datang dengan tujuan untuk memenangkan hatinya lagi. Hati yang sudah dihancurkan Inira berkeping-keping delapan tahun lalu, sebab hidupnya tak lama lagi.
| Author | : | Valerie Patkar |
| Price | : | Rp 140,000 |
| Category | : | ROMANCE |
| Page | : | 432 halaman |
| Format | : | Soft Cover |
| Size | : | 13 X 19 |
| ISBN | : | 9786230424830 |
| Publication | : |
Di sebuah pertemuan yang tak terduga, Adrian Hardikara kembali bertemu dengan Inira Dilona, aktris film ternama Indonesia yang menjadi brand ambassador bir buatannya. Tanpa sepengetahuannya, Inira datang dengan tujuan untuk memenangkan hatinya lagi. Hati yang sudah dihancurkan Inira berkeping-keping delapan tahun lalu, sebab hidupnya tak lama lagi.
Short stories:
“Turut berduka cita, ya….”Duka selalu termaram. Dia menggiring langit yang terang untuk menurunkan kesombongannya, berkawan dengan malam.
“Terima kasih.”
“Turut berduka cita, ya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.”
Jabatan tangan, senyum yang seadanya, duduk-duduk di bangku entah itu plastik atau besi, tak peduli dengan rasa nyaman. Hanya hati yang meluruh, membumi dengan setiap sudut ruang.
Kenapa? Kok bisa? Sejak kapan sakitnya?
Pertanyaan yang selalu sama.
Baju hitam yang selalu sama.
Bunga papan yang selalu sama, yang terkadang saking banyaknya hingga membingungkan untuk taruh di mana.
“Ini taruh di mana, ya?”
“Di sana saja silakan.”
Aku terduduk dalam hening di atas sebuah bangku berwarna merah. Menghadap sebuah peti putih cantik yang sepertinya secantik apa pun ia tetap tidak akan pernah mendapat pujian sebab hadirnya ia selalu membawa kepedihan.
Setiap orang yang datang heran melihatku. Usai bersalaman dengan wajah yang diliputi keprihatinan yang mendalam, mereka akan menengok ke arahku sambil memiringkan kepala. Pikir mereka, Untuk apa ada sebotol wiski di sini?
Namun setelah saling berbisik, mereka akan mengangguk-angguk mengerti.
Sebab aku dan pemilikku tidak bisa dipisahkan.
Sebab aku ada di sini karena pemilikku yang menciptakanku demikian.
Untuk merayakan, duka yang temaram.
Aku yang pada akhirnya lahir di waktu yang tepat, sekalipun banyaknya waktu terasa masih terlalu sedikit sebab ia berjalan terlalu cepat.
Di rumah duka, biasanya tidak ada banyak suara. Hening dengan suara-suara obrolan yang selalu sama.
Kenapa? Kok bisa? Sejak kapan sakitnya?
Namun, di rumah duka ini berbeda. Atensi para tamu yang tadinya keheranan melihatku, kini kembali keheranan ketika mendengar alunan piano yang berdenting. Speaker menyenandungkan alunan piano yang pembukaannya pasti terasa familier di telinga hampir semua orang.
Alunan piano dari lagu yang Krisdayanti rilis pada 2000-an.
“Ini lagi kesukaannya.”
“Oh.”
Beberapa tamu kembali mengangguk-angguk, mengerti.
Tuk, tuk, tuk.
Langkah kakinya terdengar tenang, sama seperti raut wajahnya. Pakaiannya rapi, selalu rapi. Baginya berjabat tangan dengan banyak orang dan mengucapkan terima kasih bukan sesuatu yang sulit. Dia pernah melakukannya, sering melakukannya.
Dia lalu sampai di hadapanku, mengambilku sebelum duduk di bangku yang sama, membiarkanku duduk di atas pangkuannya seakan aku sebuah boneka yang menenangkannya, atau sebuah piala yang membuatnya tetap teguh sekalipun tak ada yang dia capai denganku sama sekali.
Mencintaimu
Seumur hidupku
Selamanya
Matanya lurus menatap peti. Tak lagi ingin berjabat tangan, tak lagi ingin mengucapkan terima kasih sekalipun dia selalu pandai melakukannya.
Dia hanya menatap peti itu dalam diam.
Memelukku.
Mendengarkan lagu yang akan selalu dia dengar setiap pagi ketika bangun tidur sebab orang yang ia rindukan tak ada lagi di sana untuk menemaninya mendengarkan lagu itu.
Hanya satu yang tak mungkin kembali
Hanya satu yang tak pernah terjadi
Segalanya teramat berarti di hatiku
Selamanya
Lagu dengan banyak kata selamanya, sekalipun selamanya tak sungguh benar ada.
Beberapa orang menatapnya, tak ingin mengganggu, membiarkan.
Sebab ia terus menatap peti itu seakan itu satu-satunya yang bisa dia lihat, satu-satunya yang akan dia ingat hingga kelak.
Ia menatap peti itu sambil mengingat begitu banyak hari.
Hari-hari terbaik yang ia miliki bersama seseorang yang terbaring di dalamnya.
Hari-hari yang tidak akan pernah kembali.
Sebab segala sesuatu itu bisa kembali di dunia ini, kecuali waktu.
Dan sambil memelukku lebih erat, ini adalah cerita tentang pemilikku.
Yang akan terus hidup, seolah-olah setiap hari, masih hari itu.
Valerie Patkar
RECOMMENDED FOR YOU Explore More